Monday, November 30, 2009

Manaf sang pelamun

Malam ,siang, sore bahkan pagi sekalipun tiada detik tanpa lamunan tiada hari cerah lagi sesaat setelah permintaan Asya untuk kembali ke negeri arab.Manaf tersisa menjadi perenung entah apakah yang direnungkannya membuat Asya diam atau hanya sekedar menatap hatinya yang selalu resah basah oleh air mata.
Selarut apapun manaf semestinya menjadi pria tegar tapi kali ini terlihat begitu rapuh dan lusuh seberkas cahya harapan tiada kunjung datang untuk memadamkan gejolak Asya yang menggebu meninggalkannya.2 Tahun berlalu ketika kadatangan itu dan setahun telah dilaluinya dengan mahligai perkawinan yang diharapkannya damai, bahagia dan tentram penuh rasa cinta dan kasih sayang seperti yang selama ini ia bawa kemanapun dirinya pergi.
Manaf seakan menghancurkan harapannya sendiri saat harus menganggukan hatinya mengijinkan kepergian Asya.

Friday, August 21, 2009

Asya pulang

Malam itu didepan rumah manaf ramai sekali ibu ibu dan bapak bapak berkumpul ,bangku yang dibeli oleh salah seorang warga beberapa bulan lalu tak cukup lagi menampung ada sekitar 10 orang saling berbincang.Istri manaf selalu menemani jika ada tamu perempuan, sudah menjadi kebiasaan yang diajarkan oleh manaf bahwa tidak baik kalau ada tamu perempuan tidak di temani.Berdiri sambil menyender dipintu pagar malam itu manaf tidak kebagian kursi ,ketika dilihatnya dua orang perempuan baru saja belok mendekat.Hampir semua saling berbisik ketika dilihatnya sukesih yang berjalan dengan seorang wanita muda sambil menuntun anak kecil yang ternyata anak manaf yang terkecil.Sampai perempuan itu mendekat dan dipersilahkan duduk oleh sebagian ibu ibu masih tidak juga mengenalnya. Sukesih memperkenalkan wanita disampingnya sebagai kakaknya yang baru pulang dari arab .
Kalau saja waktu itu siang atau ada yang memperhatikan wajah manaf yang memanas dan hatinya begitu ceopat gelisah.Namun segera dikuasainya keadaan manaf tidak memperlihatkan kegelisashan hatinya yang masih bingung,mungkinkah ini wanita yang selama ini menjadi bahan pembicaraan antara manaf da bapaknya.Sebetulnya ingin segera tahu apa yang akan sukesih bicarakan atau ada salah satu dari warga yang bertanya atau menyuruhnya bercerita.Setengah berbisik sukesih mengatakan bahwa kedatangannya untuk berterimakasih kepada manaf yang telah membantu bapaknya memberikan jalan kepulangannya.Manaf kaget karena selama ini apa yang diperbuatnya tidak pernah ia perhitugkan bahkan hanya sekeadr terima kasih tak pernah ia pikirkan.Manaf memang tidak pernah mencari pamrh dari semua yang ia bisa bantu pada siapapun.Anggukan kecil tidak membuat istrinya lengah setelah beberapa langkah meeka meninggalkan tempat dijewrnya kuping manaf dan beberapa orang yang melihat tertawa dan mengingatkan istri manaf berhati hati.Manaf hanya tersenyum dan masih memandang punggung esih dan Asya.
Malam itu manaf masih memikirkan Asya ,ditahannya keinginan untuk mendengarkan cerita seorang TKW yang selama ini menghantui hatinya dengan keadaannya di arab . Kegelisahannya terhibur ketika suami sukesih datang menghampiri.Hari kebetulan bekerja sebagai tukang ronda hampir 2 tahun ketuka manaf mengijinkannya mengingat kabar bahwa istri sukesih ini pemuda nakal.Hari mengangguk ketika ditanya bahwa yang kerumahnya tadik kaka iparnya,sambil tersenyum dia merasa bangga bahwa yang diucapkannya dulu mengenenai kecantikan kaka iparnya bukan isapan jempol.Tapi hal itu tidadk diperhatikan manaf ,ia lebih tertarik untuk mencari tahu cerita sebenarnya tentang Asya.Sedikit demi sedikit Hari bercerita tentang Asya.Beberapa lelaki yang menjadi pacarnya juga menceritakan bagaimana beratnya ia menjadi tulang punggung keluarga juga tak lupa diceritakannya periatiwa terakhir ketika Asya harus kehilangan tanah yang dibelinya karena tertipu.
Manaf semakin penasaran dengan makin banyaknya keterangan dari cerita yang ia dapat.Pikiran tentang Asya membuatnya semakin tertarik dan ada hati terdalam yang sebenarnya hanya andai andai yang ia pikirkan lama ketika bapak Asya menceritakan nasib Asya.Manaf pernah berandai dalam hatinya "haruskah Asya dijadikan istri supaya tidak menderita".Pikiran itu kembali timbul setelah tahu bahwa Asya Selalu dirundung masalah .
Perasaan hatinya bercampur antara ketakutan dikira mencari pamrih dan perasaan yang tidak pernah lagi rasakan sekian puluh tahun.Manaf bertekad mencari lebih jauh tentang Asya walupun tahu bapaknya akan bosan kalu diminta bercerita.Malam itu dimintanya bapak Asya untuk mampir seperti biasa sambil minum teh dan kue yang masih tersisa.
Kali ini ternyata kisah Asya makin memprihatinkan ketuka bapaknya bercerita bahwa Asya menuntut rumah yang telah dibangun dn memang memakai sebagian besar uangnnya.Sebagian besar uangnnya sebenarnya telah terpakai untuk biaya rumah sakit saslah satu adiknya yang harus dioperasi karena terjatuh dan terlambat diobati.sebagian lagi uang itu dipakai untuk sekolah dan kekurangan biaya hidup keluarga selama Asya di Makkah.Siap bapaknya yang tidak mau membuat surat pembagian rumah membuat Asya semakin marah begitu pula bapak Asya tetap bersikeras bahwa membantu orang tua sudah kewajiban anak.
Manaf semakin bingung untuk berbuat ,sebetulnya ia sangat mengharapkan tidak ada keributan atau membuat masalah baru.Penderitaan dan jerih payahnya sebetulnya cukup untukmembuat dia tidak berfikir untuk pergi lagi.Manaf sangat tidak mengerti bagaimana perilaku seorang TKW yang sudah tiga kali pergi.Rasa penasaran itu membuat manaf ingin segera bertemu kembali namun bagaimana dan dimana ia harus bertemu sangat tidak memungkinkan.

Thursday, August 20, 2009

Manaf mencari anak P.amir

Keinginan yang keras untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan penderitaan batin setelah tiga kali menjanda membuat pikiran Asya semakin kuat untuk mengikuti beberapa saudaranya pergi ke arab Saudi untuk menjadi TKW.Berita buruk yang didapat dari para TKW pulang tak membuatnya gentar dibandingkan dengan jumlah uang bersih yang akan diterimanya.Dengan modal beberapa juta rupiah yang ia kumpulkan dari sisa bekerja di pabrik sepatu serta perhiasan emas yang dipakainya Asya menghubungi seorang sponsor untuk mendaftarkan dirinya menjadi TKW diarab Saudi.Jubail kota pertama Asya menjadi seorang pembantu rumah tangga tidak sampai 2 tahun dia pulang dan berangkat lagi ditempatkan di Negara Kuwait seperti sebelumnya majikan yang tidak baik membuatnya tidak betah dan tidak menyelesaikannya selama dua tahun sesuai kontrak kerja.Namun dua kali pengalamannya tidak membuat Asya kapok untuk menjadi lagi TKW dengan harapan sukses seperti yang didengungkan ole para pengirim tenaga kerja.Kejahilan di Kuwait oleh majikan dengan pelecehan sexsual walaupun tidak mengakibatkan hal yang patal malah menjadi tantangan.Asya kembali menjadi TKW dan ditempatkan di kota MAKKAH Disinilah kekejaman dan kebokbrokan manusia terasakan oleh Asya ketika sang majikan yang merasa telah membelinya berbuat kasar sesukanya.Beberapa kali Asya merasakan kekasaran dari majikan dan beberapa kali Asya mencoba untuk pulang dengan meminta ke agentnya untuk dipulangkan namun sang agen yang tidak mau kehilangan konsumen malah memperlakukan Asya sama seperti majikannya tamparan dan tinjuan membuat badannya hamper remuk tidak menghasilkan keinginan Asya untuk pulang.
Sambil bercerita bapak Asya sesekali hampir melelehkan air mata mengingat anknya saat ini terbelengu dalam kekejaman sang majikan dan tidak bisa disentuh dari jarak yang demikian jauh.Manaf bertanya dari mana bapak tahu Asya seperti itu.Beberapa surat sampai ke Indonesia melalui seorang India yang menjadi tukang sampah dan lewat précis dijendela rumah majikan demikian kabar disurat yang sampai di Indonesia.dan sesekali walaupun mahal dan sebentar pernah menelpon .Manaf semakin tertarik mendengarkan cerita tukang sate.Manaf memyarankan kenapa tidak lapor pada depnaker setempat dan memperlihatkan surat yang sampai dari arab Saudi.Bapak Asya megatakan bahwa ia tidak tahu harus kemana.
Manaf hamper semalaman tidak tertidur memikirkan nasib Asya yang demikian menderita.Dalam kegelisahan yang terbawa ke kantor manaf mulai membuka internet dan mencari seluk beluk prosedur TKW.Sedikit demi sedikit tata cara keberangkatan dan bagaimana TKW disana membuat manaf semakin gusar ketika menyadari begitu sulit memulangkan TKW yang sudah terkirim.Beberapa berita yang dibacanya kembali membuat hatinya kebingungan namun ia harus segera menolong Asya.Entah kenapa perasaan itu muncul begitu keras padahal tidak sedikitpun sebelumnya manaf mengenal Asaya yang ia tau Sukesih adalah adiknya Asya demikian kata tukang sate dalam ceritanya.
Malam itu manaf datang ketempat sukesih dan meminta sukesih menceritakan tentang kakanya.Dari cerita sukesih yang hamper sama dengan bapaknya manaf semakin tertarik untuk mencari cara bagaiman mengeluarkan Asya dari Makah.Sepulangnya dari rumah sukesih, manaf menunggu bapk Asya selesai berkeliling sekitar jam 12.Manaf meminta data diri Asya namun ketidak tahuan membuat beberapa kesulitan.Dengan data yang minim dan sistim informasi yang tidak jelas dari pemerintah membuat Manaf memutar otak mencari cara cepat.Dikopinya beberapa kertas tatacara melaporkan keberadaan dan kondisi TKW.Malam berikutnya manaf menyarankan bapak Asya untuk mendatangi depnaker setempat bersama hari suami sukesih untuk melaporkan keadaan Asya.
Beberapa kali manaf berkirim surat dan komentar kebeberapa situs internet berusaha mencari data TKW bernama Asya.dan beberapa email harian berita di kirimnya cerita tentang Asya.KBRI di Arab Saudi ditelponnya dan tidak menghasilkan sambungan walaupun kaatanya 24 jam kerja pada kenyataan tidak menerima telpon diluar jam kerja.Manaf semakin panic apalagi yang harus dilakukan.Lewat bantuan seorangteman dikantor yang sekebetulan istrinya seorang kryawan depnaker manaf mencari tahu dan menceritakan kejadian tentang Asya danmeminta menghubungi PJTKI yang mengirimnya.Manaf pun beberapa kali menelpon PJTKI tersebut dengan nama samaran karena beberapa kali dengan berbagai alas an selalu menolak atau hanya menjawab belum ada berita.
Entah secara kebetulan beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa Asya akan dipulangkan.Senang manaf mendengar berita tersebut.Raut muka tukang sate itu mensiratkan rasa senang anaknya bias terbebas dari penderitaan dan dia mengatakan ini untuk terahir kalinya berangkat dan tidak akan mengijinkannya berangkat lagi.
Manaf dan bapak Asya semakin dekat sehingga cerita tentang keluarga terutama Asya hampir semuanya terekam dalam pikiran manaf dan makin mencengkram kegelisahan hatinya tentang kisah seorang perempuan yang harus mengalami hidup seberat itu.Itulah menjad alas an Manaf semakin ingin mengetahui liku liku hidup tukang sate ini dan lebih menarik hati manaf bagaimana seseorang bisa seperti Asya.
Asya melakukan semuanya itu melebihi takaran keharusan sebagai seorang anak perempuan yang megharuskan ia menjadi tulang punggung adik adiknya juga menjadi tumpuan keluarga keluar dari kekurangan walupun secara tidak langsung peran Asya dalam keluarga ditutupi oleh bapaknya.Terlihat bagaimana uang yang terkumpul dari hasil jerih payah membanting tulang dan mengorbankan seluruh perasaan dan menyerahkan separuh nasibnya kepada takdir selama menjadi TKW hampir keseluruhannya terpakai untuk keluarga,Bapaknya masih menutupi seolah olah dialah yang menutupi seluruh kebutuhan keluarga.Memang tidak bisa dipungkiri hampir seluruh hidupnya tukang sate ini mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk anak anaknya yang demikian banyak.Dari hari ke hari uang hasil jualan semalam hampir habis terpakai biaya sekolah.Kekurangan dan hal yang mendadak dan memerlukan uang banyak ditutupi oleh Asya.Rumah yang tadinya gubukpun sedikit demi sedikit dibangun menjadi rumah tembok walupun sebagian memang dari bantuan pemerintah untuk rakyat miskin.Rumah inilah yang kemudian hari menjadi pemicu Asya untuk kembali melarikan diri ke tanah arab menjadi TKW.
Manaf merasa puas telah membantu Asya walaupun tidak secepat atau sebesar keinginan bapaknya.Kepulangan Asya kembali keIndonesia cukup membuat harapan baru keluarga itu.Tetapi sesunguhnya kepulangan itu ternyata bukan akhir penderitaan seorang Asya.Berbagai masalah membuat Asya menjadi bingung dan kembali membuatnya tergugah untuk pergi kembali.Baru beberapa hari dirumah bergantian satu demi satu kawan dekat yang dulu ditinggalkan datang kembali.Termasuk Kang Mus pemuda lajang yang menyakiti hatinya.
Asya sebetulnya dengan mudah menentukan pasangan hidupnya tetapi pilihan kedua orang tuanya selalu tidak serasi dengan apa yang diinginkannya sehingga benturan ini menjadi runcing ketka Asya setengah dipaksa untuk menikah dengan bujang tua yag sebetulnya tidak dicintainya.Kemarahan Asya bertambah ketika mempermasalahkan rumah yang didiami keluarganya.Asya menagih janji bapaknya yang pernah menjanjikan menbagi dua rumahnya dan permintaan tersebut membuat bapaknya marah.Bapak Asya menyangkal telah menjajikan hal seperti itu.Penyangkalan bapaknya ini membuat Asya harus mengancam orang tuanya untuk pergi kembali.
Manaf mencoba menasihati bapak Asya untuk berbuat adil karena sebagian besar membangun rumah berasal dari kiriman uang hasil kerjanya di Arab.Tapi Raut muka tukang sate itu sedikit berang ketika manaf mengatakan hal itu.Manaf mengerti sekali dengan nada tinggi yang diucapkan tukang sate tersebut dan menyadari sekeras apapun kebenaran tidak akan ditertima dalam kondisi seperti sekarang ini.Manaf memilih mencari tema lain dalam obrolan malam itu sekedar mendinginkan suasana yang sedikit memanas.Pada akhir obrolan manaf meminta bapak Asya untuk bersabar dan meminta Asya agar tidak kembali ke arab lagi ‘Manaf sebentar menerawang memikirkanapa yang terjadi dengan keluarga itu sampai hamper subuh kemudian dia masuk dan merebahkan dirinya didepan Telvisi dan tertidur

Friday, August 14, 2009


saya disini
kenapa

Tuesday, August 11, 2009

Obrolan malam hari

Sekilas keluarga Johan tidak terjadi sesuatu apapun ,hanya sebuah kelurga normal dan sederhana walupun johan seorang karyawan di perusahan BMUN yang cukup besar .Hanya saja Johan banyak dikenal dilingkungan denga kebiasaan yang orang lain tidak melakukan , banyak yang kadang menyungging senyum sinis melihat Johan dan istrinya berjalan berdua saling bergandengan tangan.Terkadang sang istri melingkarkan tangannya kepinggang Johan.Mereka seperti itu sejak perkawinannya 17 tahun lalu sampai saat ini kebiasaan tersebut tak pernah ditinggalkan.Yang menjadi perhatian para tetangga dan orang orang yang dilewati setiap johan berangkat kerja istrinya selalu mengantar sampai tibanya kendaraan yang menjemput. Kalaupun istrinya tidak mengantar biasanya salah satu anaknya yang mengantar Johan sampai ketempat dimana biasa Johan menunggu mobil.
Kemesraan keluarga Johan terkesan dibuat buat ,tetapi semua itu tidak membuat sedikitpun terganggu.Mereka percaya dengan cara begitu perselisihan keluarga yang sebesar apapun akan cepat bisa ditanggulangi,begitu ketika Johan memberikan alasan kepada salah satu temannya saat mengobrol didepan rumah.Temannya hanya mengangguk menyetujui.
Hampir jam sebelas malam itu ketika angin menghembus sedikit kencang dan awan sedikit mendung.Biasanya Johan dan temannya berpindah tempat ke pos ronda yang mereka bikin hampir lima tahun lalu.Johan melihat teko teh yang disuguhkan istrinya sudah kosong dan segera meminta istrinya untuk membuat seteko teh lagi.Istri johan menuruti apa yang diminta tanpa sedikitpun wajah cemerut atau kesal.Hal seperti ini sudah terjadi beberapa tahun entah kenapa bapak bapak sekitar lingkungan ini lebih senang berkumpul didepan rumah Johan.
Dari kejauhan terdengar suara terompet dan sudah tak asing lagi terdengar oleh warga setempat suara itu datang dari gerobak pedagang sate .Sudah hampir 17 tahun berjualan berkeliling diperumahan ini.Ketika gerobak sate lewat seperti biasa ada saja bapak bapak yang melontarkan candaan dan hanya dibalas sekedarnya menjaga kesopanan.Terkadang Johan merasa miris dengan candaan bapak bapak yang sering terlalu kasar dan terdengar melecehkan.Tetapi sering Johan ketika sendiri di ceritakan bahwa kalau rasa sakit itu ada tetapi demi kelancaran berjualan dan merasa butuh untuk mencari uang disekitar perumahan ini maka candaan itu hanya dijadikan santapan malam.
Johan berdiri dan memberikan beberapa kue yang terlihat terlalu banyak dibawa oleh bapak bapak yang berkumpul.Sambil melihat sate sate yang tersisa Johan bertanya bagaimana malam ini."Seperti biasa saja agak sepi nggak tahu orang ga pada punya duit barangkali" ,Johan hanya tersenyum dan kembali berkumpul dengan temannya.
Jam sudah menunjukan angka 12.30 ketika Johan tinggal sendiri.Tetapi Johan belum masuk kedalam rumah telihat dari piring dan gelas bekas tamu malam ini.Dihembuskannya asap rokok jauh jauh sambil melihat awan yang kembalil terang.Taka lama suara terompet sate terdengar kembali.Johan hapal sekali ini keliling yang terakhir kali setiap malam.Johan berniat untuk mengajak ngobrol sambil menunggu kantuk yang biasanya kan datang sekitar jam tiga.
Johan meminta tukang sate untuk mampir sambil menawarkan teh panas tetapi rupanya yang diinginkan secangkir kopi.Sambil mennunggu kopi yang dibuatkan istrinya johan memulai pembicaraan sambil mengepulkan asap rokok yang tak pernah lepas dari dua jari tengahnya.Saat kopi datang bapak sate mengeluh bahwa keluarga sedang dalam keadaan sedih dan was was menunggu kabar anaknya yang sekarang ada di saudi arabia.Berita terahir dari anaknya lewat sepucuk surat menceritakan keadaan yang mengkhawatirkan.Johan menanyakan isi surat dan berapa lama anaknya berada di arab.
Pembicaraan semakin menarik ketika menceritakannya dari awal.Anaknya seorang janda yang sudah hampir 7 tahun menjanda dan sudah yang ketiga kalinya berangkat ke timur tengah.Dia merupakan anak perempuan paling besar dari 9 anaknya atau no mer 4 dari 9 bersaudara.Asya nama panggilan di saudi yang biasa ditulis disurat.asya merupakan anak yang sangat berbakti keberangkatan nya ke saudi setelah mengalami penderitaan hidup menjalani beberapa kali kegagalan dalam perikahannya.Tak terasa hmalam sudah terlalu larut dan hampir mennjukan angka 3.Tukang sate terlihat segar tapi mengerti bahwa Johan esok hari harus bekerja,sambil pamit dia meminta cara bagaimana menghubungi anaknya dan menginginkan anaknya cepat kembali.Johan mengangguk dengan perasaan yang sangat penasaran.Pagi itu Johan tak sempat memjamkan matanya memikirkan nasaib asya yang ada jauh disana dan mereka reka mengapa hal itu bisa terjadi.
Lamunan Johan baru hilang ketika jam 9 pagi rasa kantuk sudah tak terhalang lagi menutup matanya di kantor.