Keinginan yang keras untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan penderitaan batin setelah tiga kali menjanda membuat pikiran Asya semakin kuat untuk mengikuti beberapa saudaranya pergi ke arab Saudi untuk menjadi TKW.Berita buruk yang didapat dari para TKW pulang tak membuatnya gentar dibandingkan dengan jumlah uang bersih yang akan diterimanya.Dengan modal beberapa juta rupiah yang ia kumpulkan dari sisa bekerja di pabrik sepatu serta perhiasan emas yang dipakainya Asya menghubungi seorang sponsor untuk mendaftarkan dirinya menjadi TKW diarab Saudi.Jubail kota pertama Asya menjadi seorang pembantu rumah tangga tidak sampai 2 tahun dia pulang dan berangkat lagi ditempatkan di Negara Kuwait seperti sebelumnya majikan yang tidak baik membuatnya tidak betah dan tidak menyelesaikannya selama dua tahun sesuai kontrak kerja.Namun dua kali pengalamannya tidak membuat Asya kapok untuk menjadi lagi TKW dengan harapan sukses seperti yang didengungkan ole para pengirim tenaga kerja.Kejahilan di Kuwait oleh majikan dengan pelecehan sexsual walaupun tidak mengakibatkan hal yang patal malah menjadi tantangan.Asya kembali menjadi TKW dan ditempatkan di kota MAKKAH Disinilah kekejaman dan kebokbrokan manusia terasakan oleh Asya ketika sang majikan yang merasa telah membelinya berbuat kasar sesukanya.Beberapa kali Asya merasakan kekasaran dari majikan dan beberapa kali Asya mencoba untuk pulang dengan meminta ke agentnya untuk dipulangkan namun sang agen yang tidak mau kehilangan konsumen malah memperlakukan Asya sama seperti majikannya tamparan dan tinjuan membuat badannya hamper remuk tidak menghasilkan keinginan Asya untuk pulang.
Sambil bercerita bapak Asya sesekali hampir melelehkan air mata mengingat anknya saat ini terbelengu dalam kekejaman sang majikan dan tidak bisa disentuh dari jarak yang demikian jauh.Manaf bertanya dari mana bapak tahu Asya seperti itu.Beberapa surat sampai ke Indonesia melalui seorang India yang menjadi tukang sampah dan lewat précis dijendela rumah majikan demikian kabar disurat yang sampai di Indonesia.dan sesekali walaupun mahal dan sebentar pernah menelpon .Manaf semakin tertarik mendengarkan cerita tukang sate.Manaf memyarankan kenapa tidak lapor pada depnaker setempat dan memperlihatkan surat yang sampai dari arab Saudi.Bapak Asya megatakan bahwa ia tidak tahu harus kemana.
Manaf hamper semalaman tidak tertidur memikirkan nasib Asya yang demikian menderita.Dalam kegelisahan yang terbawa ke kantor manaf mulai membuka internet dan mencari seluk beluk prosedur TKW.Sedikit demi sedikit tata cara keberangkatan dan bagaimana TKW disana membuat manaf semakin gusar ketika menyadari begitu sulit memulangkan TKW yang sudah terkirim.Beberapa berita yang dibacanya kembali membuat hatinya kebingungan namun ia harus segera menolong Asya.Entah kenapa perasaan itu muncul begitu keras padahal tidak sedikitpun sebelumnya manaf mengenal Asaya yang ia tau Sukesih adalah adiknya Asya demikian kata tukang sate dalam ceritanya.
Malam itu manaf datang ketempat sukesih dan meminta sukesih menceritakan tentang kakanya.Dari cerita sukesih yang hamper sama dengan bapaknya manaf semakin tertarik untuk mencari cara bagaiman mengeluarkan Asya dari Makah.Sepulangnya dari rumah sukesih, manaf menunggu bapk Asya selesai berkeliling sekitar jam 12.Manaf meminta data diri Asya namun ketidak tahuan membuat beberapa kesulitan.Dengan data yang minim dan sistim informasi yang tidak jelas dari pemerintah membuat Manaf memutar otak mencari cara cepat.Dikopinya beberapa kertas tatacara melaporkan keberadaan dan kondisi TKW.Malam berikutnya manaf menyarankan bapak Asya untuk mendatangi depnaker setempat bersama hari suami sukesih untuk melaporkan keadaan Asya.
Beberapa kali manaf berkirim surat dan komentar kebeberapa situs internet berusaha mencari data TKW bernama Asya.dan beberapa email harian berita di kirimnya cerita tentang Asya.KBRI di Arab Saudi ditelponnya dan tidak menghasilkan sambungan walaupun kaatanya 24 jam kerja pada kenyataan tidak menerima telpon diluar jam kerja.Manaf semakin panic apalagi yang harus dilakukan.Lewat bantuan seorangteman dikantor yang sekebetulan istrinya seorang kryawan depnaker manaf mencari tahu dan menceritakan kejadian tentang Asya danmeminta menghubungi PJTKI yang mengirimnya.Manaf pun beberapa kali menelpon PJTKI tersebut dengan nama samaran karena beberapa kali dengan berbagai alas an selalu menolak atau hanya menjawab belum ada berita.
Entah secara kebetulan beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa Asya akan dipulangkan.Senang manaf mendengar berita tersebut.Raut muka tukang sate itu mensiratkan rasa senang anaknya bias terbebas dari penderitaan dan dia mengatakan ini untuk terahir kalinya berangkat dan tidak akan mengijinkannya berangkat lagi.
Manaf dan bapak Asya semakin dekat sehingga cerita tentang keluarga terutama Asya hampir semuanya terekam dalam pikiran manaf dan makin mencengkram kegelisahan hatinya tentang kisah seorang perempuan yang harus mengalami hidup seberat itu.Itulah menjad alas an Manaf semakin ingin mengetahui liku liku hidup tukang sate ini dan lebih menarik hati manaf bagaimana seseorang bisa seperti Asya.
Asya melakukan semuanya itu melebihi takaran keharusan sebagai seorang anak perempuan yang megharuskan ia menjadi tulang punggung adik adiknya juga menjadi tumpuan keluarga keluar dari kekurangan walupun secara tidak langsung peran Asya dalam keluarga ditutupi oleh bapaknya.Terlihat bagaimana uang yang terkumpul dari hasil jerih payah membanting tulang dan mengorbankan seluruh perasaan dan menyerahkan separuh nasibnya kepada takdir selama menjadi TKW hampir keseluruhannya terpakai untuk keluarga,Bapaknya masih menutupi seolah olah dialah yang menutupi seluruh kebutuhan keluarga.Memang tidak bisa dipungkiri hampir seluruh hidupnya tukang sate ini mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk anak anaknya yang demikian banyak.Dari hari ke hari uang hasil jualan semalam hampir habis terpakai biaya sekolah.Kekurangan dan hal yang mendadak dan memerlukan uang banyak ditutupi oleh Asya.Rumah yang tadinya gubukpun sedikit demi sedikit dibangun menjadi rumah tembok walupun sebagian memang dari bantuan pemerintah untuk rakyat miskin.Rumah inilah yang kemudian hari menjadi pemicu Asya untuk kembali melarikan diri ke tanah arab menjadi TKW.
Manaf merasa puas telah membantu Asya walaupun tidak secepat atau sebesar keinginan bapaknya.Kepulangan Asya kembali keIndonesia cukup membuat harapan baru keluarga itu.Tetapi sesunguhnya kepulangan itu ternyata bukan akhir penderitaan seorang Asya.Berbagai masalah membuat Asya menjadi bingung dan kembali membuatnya tergugah untuk pergi kembali.Baru beberapa hari dirumah bergantian satu demi satu kawan dekat yang dulu ditinggalkan datang kembali.Termasuk Kang Mus pemuda lajang yang menyakiti hatinya.
Asya sebetulnya dengan mudah menentukan pasangan hidupnya tetapi pilihan kedua orang tuanya selalu tidak serasi dengan apa yang diinginkannya sehingga benturan ini menjadi runcing ketka Asya setengah dipaksa untuk menikah dengan bujang tua yag sebetulnya tidak dicintainya.Kemarahan Asya bertambah ketika mempermasalahkan rumah yang didiami keluarganya.Asya menagih janji bapaknya yang pernah menjanjikan menbagi dua rumahnya dan permintaan tersebut membuat bapaknya marah.Bapak Asya menyangkal telah menjajikan hal seperti itu.Penyangkalan bapaknya ini membuat Asya harus mengancam orang tuanya untuk pergi kembali.
Manaf mencoba menasihati bapak Asya untuk berbuat adil karena sebagian besar membangun rumah berasal dari kiriman uang hasil kerjanya di Arab.Tapi Raut muka tukang sate itu sedikit berang ketika manaf mengatakan hal itu.Manaf mengerti sekali dengan nada tinggi yang diucapkan tukang sate tersebut dan menyadari sekeras apapun kebenaran tidak akan ditertima dalam kondisi seperti sekarang ini.Manaf memilih mencari tema lain dalam obrolan malam itu sekedar mendinginkan suasana yang sedikit memanas.Pada akhir obrolan manaf meminta bapak Asya untuk bersabar dan meminta Asya agar tidak kembali ke arab lagi ‘Manaf sebentar menerawang memikirkanapa yang terjadi dengan keluarga itu sampai hamper subuh kemudian dia masuk dan merebahkan dirinya didepan Telvisi dan tertidur
Sambil bercerita bapak Asya sesekali hampir melelehkan air mata mengingat anknya saat ini terbelengu dalam kekejaman sang majikan dan tidak bisa disentuh dari jarak yang demikian jauh.Manaf bertanya dari mana bapak tahu Asya seperti itu.Beberapa surat sampai ke Indonesia melalui seorang India yang menjadi tukang sampah dan lewat précis dijendela rumah majikan demikian kabar disurat yang sampai di Indonesia.dan sesekali walaupun mahal dan sebentar pernah menelpon .Manaf semakin tertarik mendengarkan cerita tukang sate.Manaf memyarankan kenapa tidak lapor pada depnaker setempat dan memperlihatkan surat yang sampai dari arab Saudi.Bapak Asya megatakan bahwa ia tidak tahu harus kemana.
Manaf hamper semalaman tidak tertidur memikirkan nasib Asya yang demikian menderita.Dalam kegelisahan yang terbawa ke kantor manaf mulai membuka internet dan mencari seluk beluk prosedur TKW.Sedikit demi sedikit tata cara keberangkatan dan bagaimana TKW disana membuat manaf semakin gusar ketika menyadari begitu sulit memulangkan TKW yang sudah terkirim.Beberapa berita yang dibacanya kembali membuat hatinya kebingungan namun ia harus segera menolong Asya.Entah kenapa perasaan itu muncul begitu keras padahal tidak sedikitpun sebelumnya manaf mengenal Asaya yang ia tau Sukesih adalah adiknya Asya demikian kata tukang sate dalam ceritanya.
Malam itu manaf datang ketempat sukesih dan meminta sukesih menceritakan tentang kakanya.Dari cerita sukesih yang hamper sama dengan bapaknya manaf semakin tertarik untuk mencari cara bagaiman mengeluarkan Asya dari Makah.Sepulangnya dari rumah sukesih, manaf menunggu bapk Asya selesai berkeliling sekitar jam 12.Manaf meminta data diri Asya namun ketidak tahuan membuat beberapa kesulitan.Dengan data yang minim dan sistim informasi yang tidak jelas dari pemerintah membuat Manaf memutar otak mencari cara cepat.Dikopinya beberapa kertas tatacara melaporkan keberadaan dan kondisi TKW.Malam berikutnya manaf menyarankan bapak Asya untuk mendatangi depnaker setempat bersama hari suami sukesih untuk melaporkan keadaan Asya.
Beberapa kali manaf berkirim surat dan komentar kebeberapa situs internet berusaha mencari data TKW bernama Asya.dan beberapa email harian berita di kirimnya cerita tentang Asya.KBRI di Arab Saudi ditelponnya dan tidak menghasilkan sambungan walaupun kaatanya 24 jam kerja pada kenyataan tidak menerima telpon diluar jam kerja.Manaf semakin panic apalagi yang harus dilakukan.Lewat bantuan seorangteman dikantor yang sekebetulan istrinya seorang kryawan depnaker manaf mencari tahu dan menceritakan kejadian tentang Asya danmeminta menghubungi PJTKI yang mengirimnya.Manaf pun beberapa kali menelpon PJTKI tersebut dengan nama samaran karena beberapa kali dengan berbagai alas an selalu menolak atau hanya menjawab belum ada berita.
Entah secara kebetulan beberapa hari kemudian terdengar kabar bahwa Asya akan dipulangkan.Senang manaf mendengar berita tersebut.Raut muka tukang sate itu mensiratkan rasa senang anaknya bias terbebas dari penderitaan dan dia mengatakan ini untuk terahir kalinya berangkat dan tidak akan mengijinkannya berangkat lagi.
Manaf dan bapak Asya semakin dekat sehingga cerita tentang keluarga terutama Asya hampir semuanya terekam dalam pikiran manaf dan makin mencengkram kegelisahan hatinya tentang kisah seorang perempuan yang harus mengalami hidup seberat itu.Itulah menjad alas an Manaf semakin ingin mengetahui liku liku hidup tukang sate ini dan lebih menarik hati manaf bagaimana seseorang bisa seperti Asya.
Asya melakukan semuanya itu melebihi takaran keharusan sebagai seorang anak perempuan yang megharuskan ia menjadi tulang punggung adik adiknya juga menjadi tumpuan keluarga keluar dari kekurangan walupun secara tidak langsung peran Asya dalam keluarga ditutupi oleh bapaknya.Terlihat bagaimana uang yang terkumpul dari hasil jerih payah membanting tulang dan mengorbankan seluruh perasaan dan menyerahkan separuh nasibnya kepada takdir selama menjadi TKW hampir keseluruhannya terpakai untuk keluarga,Bapaknya masih menutupi seolah olah dialah yang menutupi seluruh kebutuhan keluarga.Memang tidak bisa dipungkiri hampir seluruh hidupnya tukang sate ini mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk anak anaknya yang demikian banyak.Dari hari ke hari uang hasil jualan semalam hampir habis terpakai biaya sekolah.Kekurangan dan hal yang mendadak dan memerlukan uang banyak ditutupi oleh Asya.Rumah yang tadinya gubukpun sedikit demi sedikit dibangun menjadi rumah tembok walupun sebagian memang dari bantuan pemerintah untuk rakyat miskin.Rumah inilah yang kemudian hari menjadi pemicu Asya untuk kembali melarikan diri ke tanah arab menjadi TKW.
Manaf merasa puas telah membantu Asya walaupun tidak secepat atau sebesar keinginan bapaknya.Kepulangan Asya kembali keIndonesia cukup membuat harapan baru keluarga itu.Tetapi sesunguhnya kepulangan itu ternyata bukan akhir penderitaan seorang Asya.Berbagai masalah membuat Asya menjadi bingung dan kembali membuatnya tergugah untuk pergi kembali.Baru beberapa hari dirumah bergantian satu demi satu kawan dekat yang dulu ditinggalkan datang kembali.Termasuk Kang Mus pemuda lajang yang menyakiti hatinya.
Asya sebetulnya dengan mudah menentukan pasangan hidupnya tetapi pilihan kedua orang tuanya selalu tidak serasi dengan apa yang diinginkannya sehingga benturan ini menjadi runcing ketka Asya setengah dipaksa untuk menikah dengan bujang tua yag sebetulnya tidak dicintainya.Kemarahan Asya bertambah ketika mempermasalahkan rumah yang didiami keluarganya.Asya menagih janji bapaknya yang pernah menjanjikan menbagi dua rumahnya dan permintaan tersebut membuat bapaknya marah.Bapak Asya menyangkal telah menjajikan hal seperti itu.Penyangkalan bapaknya ini membuat Asya harus mengancam orang tuanya untuk pergi kembali.
Manaf mencoba menasihati bapak Asya untuk berbuat adil karena sebagian besar membangun rumah berasal dari kiriman uang hasil kerjanya di Arab.Tapi Raut muka tukang sate itu sedikit berang ketika manaf mengatakan hal itu.Manaf mengerti sekali dengan nada tinggi yang diucapkan tukang sate tersebut dan menyadari sekeras apapun kebenaran tidak akan ditertima dalam kondisi seperti sekarang ini.Manaf memilih mencari tema lain dalam obrolan malam itu sekedar mendinginkan suasana yang sedikit memanas.Pada akhir obrolan manaf meminta bapak Asya untuk bersabar dan meminta Asya agar tidak kembali ke arab lagi ‘Manaf sebentar menerawang memikirkanapa yang terjadi dengan keluarga itu sampai hamper subuh kemudian dia masuk dan merebahkan dirinya didepan Telvisi dan tertidur
No comments:
Post a Comment