Malam itu didepan rumah manaf ramai sekali ibu ibu dan bapak bapak berkumpul ,bangku yang dibeli oleh salah seorang warga beberapa bulan lalu tak cukup lagi menampung ada sekitar 10 orang saling berbincang.Istri manaf selalu menemani jika ada tamu perempuan, sudah menjadi kebiasaan yang diajarkan oleh manaf bahwa tidak baik kalau ada tamu perempuan tidak di temani.Berdiri sambil menyender dipintu pagar malam itu manaf tidak kebagian kursi ,ketika dilihatnya dua orang perempuan baru saja belok mendekat.Hampir semua saling berbisik ketika dilihatnya sukesih yang berjalan dengan seorang wanita muda sambil menuntun anak kecil yang ternyata anak manaf yang terkecil.Sampai perempuan itu mendekat dan dipersilahkan duduk oleh sebagian ibu ibu masih tidak juga mengenalnya. Sukesih memperkenalkan wanita disampingnya sebagai kakaknya yang baru pulang dari arab .
Kalau saja waktu itu siang atau ada yang memperhatikan wajah manaf yang memanas dan hatinya begitu ceopat gelisah.Namun segera dikuasainya keadaan manaf tidak memperlihatkan kegelisashan hatinya yang masih bingung,mungkinkah ini wanita yang selama ini menjadi bahan pembicaraan antara manaf da bapaknya.Sebetulnya ingin segera tahu apa yang akan sukesih bicarakan atau ada salah satu dari warga yang bertanya atau menyuruhnya bercerita.Setengah berbisik sukesih mengatakan bahwa kedatangannya untuk berterimakasih kepada manaf yang telah membantu bapaknya memberikan jalan kepulangannya.Manaf kaget karena selama ini apa yang diperbuatnya tidak pernah ia perhitugkan bahkan hanya sekeadr terima kasih tak pernah ia pikirkan.Manaf memang tidak pernah mencari pamrh dari semua yang ia bisa bantu pada siapapun.Anggukan kecil tidak membuat istrinya lengah setelah beberapa langkah meeka meninggalkan tempat dijewrnya kuping manaf dan beberapa orang yang melihat tertawa dan mengingatkan istri manaf berhati hati.Manaf hanya tersenyum dan masih memandang punggung esih dan Asya.
Malam itu manaf masih memikirkan Asya ,ditahannya keinginan untuk mendengarkan cerita seorang TKW yang selama ini menghantui hatinya dengan keadaannya di arab . Kegelisahannya terhibur ketika suami sukesih datang menghampiri.Hari kebetulan bekerja sebagai tukang ronda hampir 2 tahun ketuka manaf mengijinkannya mengingat kabar bahwa istri sukesih ini pemuda nakal.Hari mengangguk ketika ditanya bahwa yang kerumahnya tadik kaka iparnya,sambil tersenyum dia merasa bangga bahwa yang diucapkannya dulu mengenenai kecantikan kaka iparnya bukan isapan jempol.Tapi hal itu tidadk diperhatikan manaf ,ia lebih tertarik untuk mencari tahu cerita sebenarnya tentang Asya.Sedikit demi sedikit Hari bercerita tentang Asya.Beberapa lelaki yang menjadi pacarnya juga menceritakan bagaimana beratnya ia menjadi tulang punggung keluarga juga tak lupa diceritakannya periatiwa terakhir ketika Asya harus kehilangan tanah yang dibelinya karena tertipu.
Manaf semakin penasaran dengan makin banyaknya keterangan dari cerita yang ia dapat.Pikiran tentang Asya membuatnya semakin tertarik dan ada hati terdalam yang sebenarnya hanya andai andai yang ia pikirkan lama ketika bapak Asya menceritakan nasib Asya.Manaf pernah berandai dalam hatinya "haruskah Asya dijadikan istri supaya tidak menderita".Pikiran itu kembali timbul setelah tahu bahwa Asya Selalu dirundung masalah .
Perasaan hatinya bercampur antara ketakutan dikira mencari pamrih dan perasaan yang tidak pernah lagi rasakan sekian puluh tahun.Manaf bertekad mencari lebih jauh tentang Asya walupun tahu bapaknya akan bosan kalu diminta bercerita.Malam itu dimintanya bapak Asya untuk mampir seperti biasa sambil minum teh dan kue yang masih tersisa.
Kali ini ternyata kisah Asya makin memprihatinkan ketuka bapaknya bercerita bahwa Asya menuntut rumah yang telah dibangun dn memang memakai sebagian besar uangnnya.Sebagian besar uangnnya sebenarnya telah terpakai untuk biaya rumah sakit saslah satu adiknya yang harus dioperasi karena terjatuh dan terlambat diobati.sebagian lagi uang itu dipakai untuk sekolah dan kekurangan biaya hidup keluarga selama Asya di Makkah.Siap bapaknya yang tidak mau membuat surat pembagian rumah membuat Asya semakin marah begitu pula bapak Asya tetap bersikeras bahwa membantu orang tua sudah kewajiban anak.
Manaf semakin bingung untuk berbuat ,sebetulnya ia sangat mengharapkan tidak ada keributan atau membuat masalah baru.Penderitaan dan jerih payahnya sebetulnya cukup untukmembuat dia tidak berfikir untuk pergi lagi.Manaf sangat tidak mengerti bagaimana perilaku seorang TKW yang sudah tiga kali pergi.Rasa penasaran itu membuat manaf ingin segera bertemu kembali namun bagaimana dan dimana ia harus bertemu sangat tidak memungkinkan.