Monday, November 30, 2009

Manaf sang pelamun

Malam ,siang, sore bahkan pagi sekalipun tiada detik tanpa lamunan tiada hari cerah lagi sesaat setelah permintaan Asya untuk kembali ke negeri arab.Manaf tersisa menjadi perenung entah apakah yang direnungkannya membuat Asya diam atau hanya sekedar menatap hatinya yang selalu resah basah oleh air mata.
Selarut apapun manaf semestinya menjadi pria tegar tapi kali ini terlihat begitu rapuh dan lusuh seberkas cahya harapan tiada kunjung datang untuk memadamkan gejolak Asya yang menggebu meninggalkannya.2 Tahun berlalu ketika kadatangan itu dan setahun telah dilaluinya dengan mahligai perkawinan yang diharapkannya damai, bahagia dan tentram penuh rasa cinta dan kasih sayang seperti yang selama ini ia bawa kemanapun dirinya pergi.
Manaf seakan menghancurkan harapannya sendiri saat harus menganggukan hatinya mengijinkan kepergian Asya.

No comments: